Sabtu, 13 Juli 2013

Musik Sebagai Mesin Waktu 1





Manusia hidup melewati hari demi hari, kadang hari yang kita lewati hanya terbuang dengan bermalas-malasan, kadang juga kita lewati dengan bersenang-senang, atau sibuk sendiri dengan aktivitas sehari-hari. Dan tentu saja kita tak pernah ambil pusing memikirkan hari yang telah kita lewati.


Tapi ada hari, dimana itu terasa hari yang sangat berharga dan rasanya seperti hidup kita baru saja dimulai. Momen itu saya rasakan hari ini, perasaan itu membuat aliran darah saya mengalir deras seperti banjir bandang yang terjadi akhir-akhir ini di beberapa daerah Indonesia. Sampai-sampai, saya kerap susah tidur karena memikirkan momen yang akan saya lewati yang bagi saya penting ini!!.. Haha


Cerita ini dimulai dari rasa penasaran yang tak pernah berhenti menggelayuti pikiran saya. Berawal dari membaca sebuah novel karya Pramoedya A.T berjudul Bumi Manusia dan tentu saja berlanjut hingga sekuel terakhirnya dalam Tetralogi. Setelah jauh menyelam ke dalam cerita dan tanpa terasa cerita itu usai, tetapi penyelaman itu ternyata tak berujung hingga saya mencari foto-foto tokoh dalam novel itu yang saya anggap mereka benar-benar hidup.


Tak puas dengan foto berlanjut ke video tentang tahun-tahun dimana novel itu berlatar. Karena saya terhanyut dalam arus ini, jadi saya ingin merasakan setiap aliran, suasana, aroma, suara, warna dan segalanya tentang dunia dalam cerita, yang terasa dekat dan hangat.


Terus dan terus dalam pencarian, akhirnya berlanjut pada musik. Musik? Apa yang didengar mereka waktu itu? Apakah pribumi, indo dan Belanda mendengarkan musik yang sama (Seperti jaman globalisasi ini)? Siapa yang bisa mengakses musik jaman itu? Siapa musisi pribumi atau Belanda yang "ngehit" pada waktu itu?


Dan pencarian dengan mesin bak Dewa yang maha tahu pun berlanjut dengan kata kunci yang lugu "Musik Populer Jaman Hindia Belanda". Hasilnya tak banyak yang sesuai dengan keinginan. Saya buka satu persatu dan bertemulah saya dengan website Radio Nederland Weredomroep Indonesia yang memuat artikel berjudul "Pameran Musik Hasil Menjajah Indonesia"  ditulis oleh Joss Wibisono yang menceritakan tentang seorang pianist belanda yang membuat buku tentang musik masa kolonial belanda. Pianist itu bernama Henk Mak Van Dijk, banyak hal yang dia ceritakan tentang bukunya “Wajang Foxtrot” mulai dari Mars prajurit Belanda, Musik-musik tentang kekaguman Belanda terhadap Indonesia hingga musik tentang kerinduan mereka terhadap tanah air Belanda, karena paling tidak selama 6 tahun mereka harus tinggal di Indonesia yang meninggalkan keluarga dan sanak saudara

Tidak hanya menulis buku, Henk Mak Van Dijk juga menggubah musik karya-karya Musisi Belanda kelahiran Indonesia seperti Constant Van De Wall, Paul Seelig. Dan melahirkan dua Album yang menawan, dan beberapa sudah saya dengar karyanya.

Itu menarik sekali bagi saya, tapi bagaimana saya mendapatkan album itu? Apakah ada yang jual di Jakarta atau kota besar lainnya? Saya mencari-cari dalam rimba raya Internet. Ternyata tidak ada yang menjual album itu sama sekali. Saya akhirnya beralih ke web-web Belanda dan saya menemukannya. Bukan menemukan alamat penjualnya tapi saya menemukan alamat email Henk Mak Van Dijk. Dan dengan perasaan nothing to lose dan sedikit kecil hati saya kirim email ke alamat dalam web. Suatu hari saya buka email saya dan ternyata seperti yang saya duga no answer.

2 hari kemuadian.

Dengan perasaan tak berharap saya membuka halaman email lagi. Finally, email saya ternyata dibalas dengan ramah yang berakhir dengan mengajak saya bertemu pada tanggal 21 Juli nanti di Yogja. Karena memang Van Dijk ada jadwal ke Yogya tanggal itu. Sulit dikatakan kalau ini hanya kebetulan. Dan senyum bahagia saya biarkan mengembang untuk beberapa hari kedepan. Berlanjut pada Musik sebagai mesin waktu 2